Nihilisme dan Tuhan
Nihilisme adalah paradigma yang dibangun oleh
Friedrich Wilhelm Nietzsche yang melihat segala sesuatunya dengan nihil.
Nihilisme tidak dibangun melalui suatu keadaan yang ada, melainkan pada
dasarnya terkonstruksi oleh nilai-nilai nihil itu sendiri. Nilai-nilai
ini tidak dilihat dari satu sisi kiri, kanan, maupun di tengah-tengah.
Ia berada pada sebuah ruang dan waktu yang berada di manapun. Ia bisa
menjadi kiri sedikit kanan, ataupun sebaliknya, ataupun tidak keduanya,
bahkan ia pun tidak bisa juga disebut sebagai ia dalam bentuk yang lebih
mudah. Ia tidak terbatas, dan berada beyond pada semua bentuk, termasuk pada aspek posisinya.
Nietzsche berperan penting dalam melihat bagaimana
sebuah ide dapat menjadi bentuk yang nihil, bukan lagi nyata atau semu,
ataupun gabungan keduanya. Nihil adalah suatu sifat, keadaan, bentuk,
atau apapun yang tak terhingga. Ia memerlihatkan suatu ide maupun benda
yang diakomodasi oleh nilai-nilai yang tidak dibentuk oleh akomodasi
nilai-nilai posisi lainnya. Oleh karena itu, Nietzsche mengambil bentuk
tertinggi pikiran manusia untuk dihancur-leburkan dalam suatu bentuk
yang tidak ada, yaitu Tuhan.
Tuhan adalah konstruksi pikiran manusia yang
terakomodasi dalam bentuk-bentuk ketergantungan. Ini yang ditekankan
oleh Nietzsche. Bayangkan saja, manusia hidup dengan manusia lain, tapi
ternyata itu tidak cukup untuk mengakomodasi sifat-sifat manusia.
Ketergantungan tentang yang terbatas kemudian disandarkan pada bentuk
yang tak terbatas, sehingga Tuhan adalah semuanya, memerlihatkan
bagaimana manusia seharusnya, maupun manusia seutuhnya. Kesimpulan itu
kemudian menunjukkan bahwa Tuhan itu sendiri adalah nihil. Ia ada dan
tidak ada, tergantung bagaimana itu dikonstruksikan. Ia bisa saja berada
pada sebuah posisi tertentu, atau pada titik tertentu, tapi ia juga
bisa saja hilang dan muncul tanpa harus dibenturkan dalam batas-batas
yang terbatas. Tuhan kemudian dilihat sebagai sesuatu yang berada di
luar pikiran manusia, namun ia terus masuk pada setiap pikiran manusia,
dan secara mudah mengonstruksi pikiran manusia.
Tuhan dan Misteri
Cukupkah Tuhan diartikan dalam bentuk-bentuk
pertanyaan manusia? Dalam pemikiran manusia, selalu terbersit
bentuk-bentuk pernyataan dan pertanyaan atas Tuhan itu sendiri. Apa itu
Tuhan? Siapa itu Tuhan? Di mana itu Tuhan? Bagaimana bentuk Tuhan?
Mengapa harus Tuhan? atau Sejauhmana Tuhan mampu? Seberapa
jauh/tinggi/besar Tuhan? Ternyata itu tidak cukup untuk menjawab tentang
Tuhan dalam logika pertanyaan manusia. Manusia memiliki batas yang
sudah maupun sedang ia bentuk bersama manusia yang lainnya. Inilah yang
menjadi sebuah pernyataan tentang pertanyaan yang muncul dalam setiap
hati manusia; mungkinkah Tuhan?
Lalu, bagaimana logika manusia tidak mampu menjawab
Tuhan? Tidakkah itu makhluk paling sempurna? Ya, itu benar menurut
konstruksi pemikiran manusia, tapi Tuhan tidak senyatanya lebih atau
melampaui sempurna. Tuhan tidak pernah mungkin hidup atau mati, tak ada
yang tahu karena tak ada yang memahami, bahkan memutuskan. Tuhan itu
adalah maha, dan sejatinya nihil. Ia tanpa bentuk, tanpa titik, tanpa
posisi, tanpa nurani, dan tanpa apapun yang melekat di dirinya. Adakah
selain Tuhan yang bisa demikian? Sejatinya Tuhan adalah keadaan yang
tanpa maksud, tanpa benar dan salah, dan hanya hidup dalam konstruksi
pikiran manusia.
Tuhan kemudian dilihat sebagai sesuatu yang beyond,
tak ada yang bisa mengukur sejauhmana ia melampaui sesuatu, bisa saja
ia sudah maju atau mundur, atau bisa aja ia di dalam atau di luar.
Konstruksi pikiran manusia lah yang kemudian melakukan justifikasi bahwa
Tuhan itu ada di semua tempat, melalui sebuah pernyataan, tapi ia tidak
ada dimanapun? Kembali ke konstruksi pikiran manusia yang mengubahnya.
Para pemikir posisi, baik pesimis maupun apatis, bahkan melihat Tuhan
itu hanya ada di pikiran manusia, tidak lebih, hanya sekedar sebuah
aspek yang merujuk pada sebuah kondisi ada atau tidak ada, yang kemudian
merupakan justifikasi pula tentang Tuhan yang nihil.
Itulah mengapa Tuhan adalah sebuah misteri. Ia
semacam mitos yang berkembang, tidak butuh logika yang masuk akal untuk
memahaminya, manusia saja yang melihat itu dalam kemajemukan pikirannya.
Konon, logika Tuhan itu luas tak terbatas, dan manusia hanya memahami
sangat sedikit pemikiran itu. Di satu kesempatan, manusia mampu denngan
mudah melihat Tuhan sebagai sebuah sosok yang baik atau jahat, bahkan
bisa dikonstruksikan ke dalam bentuk benda ataupun ide tanpa harus
merujuk pada persetujuan Tuhan. Tuhan hidup dan mati dalam kondisi yang
berbeda dengan manusia sebagai benda. Tuhan bahkan tidak butuh manusia
namun sebaliknya, manusia lah yang membutuhkan Tuhan, maka kemudian para
manusia mengonstruksi pikirannya agar dianggap sebanding dengan logika
Tuhan. Inilah yang disebut dengan agama.
Apakah agama juga nihil? Apakah ia mewarisi sifat
nihil Tuhan ataukah ia hanya sekedar konstruksi manusia? Manusia dengan
mudah pula melakukan justifikasi agama sebagai bentuk yang diharapkan
oleh Tuhan. Kalau demikian, untuk siapa agama itu? Tuhan atau manusia?
Bagaimana agama tahu bahwa agama itu adalah yang terbaik untuk
mengonstruksi Tuhan? Agama adalah suatu jalan menuju Tuhan yang nihil.
Nihil itu tidak majemuk, karena tanpa bentuk dan aspek, berbeda dengaan
agam yang menyamakan logika manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, agama
bisa majemuk, tapi itu semua menuju pada titik yang nihil, yaitu Tuhan.
Agama adalah bentuk konstruksi yang termisterikan oleh Tuhan. Tidak ada
yang mengetahui siapa yang membentuk agama, apakah itu sebuah jalan
kehidupan, atau gaya kehidupan, atau malah akomodasi kehidupan? Tidak
ada seorang pun yang melabeli sebuah agama, mulai dari Buddha, Yesus,
Dewa Siwa-Wisnu-Brahma, Nabi Muhammad, Amon Ra, Zeus, Dewi Kwan Im,
tidak ada yang mencanangkan jalan mereka sebagai sebuah agama, karena
itu hanya konstruksi menuju Tuhan yang nihil. Maka tidak salah bila
kemudian konstruksi itu berkembang dan musnah sedemikian rupa tanpa
arah. Jalan Buddha terpecah menjadi Mahayana dan Hinayana, jalan Yesus
terpecah menjadi Katolik dan Kristen Prootestan, jalan Dewa
Siwa-Wisnu-Brahma terpecah menurut ketiga dewa tersebut, jalan Nabi
Muhammad terpecah menjadi Sunni dan Syiah, dan lain-lain. Itu semua
tidak lepas dari konstruksi pikiran manusia itu sendiri untuk mencari
Tuhan yang nihil. Manusia selalu bersandar pada suatu bentuk, dan bentuk
inilah yang majemuk, namun Tuhan yang nihil tidak majemuk, bahkan ia
tidak satu, bisa beragam, ataupun bisa tidak ada.
Nihilisme
Nihilisme bertumpu pada kehidupan manusia dan Tuhan.
Dalam sisi kehidupan manusia, nihilisme melihat bagaimana sebuah ide
atau benda dilihat dari sisi yang berbeda, bukan lagi hanya dalam sisi
esensi, tapi juga eksistensinya. Nihilisme tidak melihat dari satu sisi
saja, bahkan ia tidak netral, melainkan beyond. Nihilisme
melihat pikiran manusia sebagai konstruksi yang dibentuk oleh manusia
itu sendiri. Jika sesuatu bisa dilihat dari satu sisi, maka ia juga bisa
dilihat dari sisi lain, bahkan ia juga tidak bisa dilihat. Itulah
konstruksi pikiran manusia, namun sayangnya manusia jarang sampai pada
sisi ini. Sisi yang tidak bisa dengan mudah diadopsi pada plihan-pilihan
kehidupan. Banyak orang berkata takdir itu ada karena sudah ditentukan,
apakah benar? Konstruksi yang sangat panjang, berturut-turut, dan
terlampaui itulah yang membentuknya. Manusia tidak mampu untuk melihat
konstruksi pikiran sedalam-dalamnya dan sejauh-jauhnya. Manusia itu
terbatas, tapi ia juga tidak terbatas.
Apakah manusia bisa dikatakan sebagai nihil? Secara
awal, bisa, tapi secara perkembangan,, manusia tidak mampu. Aspek ide
dan benda adalah dua hal yang selalu mengonstruksi pikiran manusia.
Keduanya saling berkaitan, bahkan juga tanpa alur yang jelas.
Keterbatasan manusia inilah yang hanya bisa melihat nihilisme dari sisi
konstruksi ide, bukan benda. Benda bisa dilihat sebagai suatu hal yang
nihil, namun hanya bila dilihat dari konstruksi ide. Manusia hidup dari
pilihan-pilihan—ini pula yang dianggap oleh keterbatasan manusia sebagai
kebebasan dari Tuhan yang nihil—yang dianeksasi dari sisi-sisi dunia.
Lalu apakah dunia itu nihil? Tidak bila sudah dikonstruksi manusia. Lalu
apakah artinya manusia adalah pusat dari konstruksinya sendiri? Manusia
tidak pernah melihat dirinya sendiri sebagai pusat dari konstruksinya
sendiri. Ketersandaran terhadap bentuk-bentuk itu yang berkembang
mengonstruksi berturut-turut manusia. Ya, manusia memang terbatas.
Beberapa manusia mengatakan bahwa nihilisme adalah
sebuah posisi, aspek, prospek, teori, konsep, postulat, ide, atau
apapun. Nihilisme memang dibentuk dari sisi filsafat, tapi itulah
manusia yang harus menyandarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, bahkan
bisa dikatakan bahwa sesuatu itu tidak akan bisa dianggap sebagai
sesuatu bila sesuatu itu tidak disesuatukan oleh sesuatu yang lain.
Nihilisme tidak mengonstruksi dirinya dalam apapun, bahkan tidak dalam
pengertian suatu keadaan. Ia hanyalah ruang dan waktu yang ada dan tidak
ada, hanya itu. Ia tak terhingga—manusia melihat Tuhan sebagai tak
terhingga maka nihil—dan mudah dan tidak mudah untuk dicapai. Manusia
kemudian mengerdilkan nihilisme sebagai sebuah kebutuhan. Lalu untuk apa
nihilime dipergunakan dalam kebutuhan? Padahal nihilisme tidak praktis,
bahkan bukan ide ataupun benda, tapi nihil. Tidakkah itu yang
dibutuhkan? Tidak selalu, karena manusia bisa saja menjadi nihil dan
tidak di semua ruang dan waktu yang nihil, dan tanpa dikonstruksikan,
nihil itu nihil, suatu bentuk yang tanpa, bukan kosong, tapi tanpa
antonim. Tidak jarang manusia melihat nihilisme sebagai alat untuk
melihat sesuatu—tapi nihilisme bukan alat. Dengan nihilisme, manusia
bisa melihat sisi lain, bisa mengakomodasi pikiran manusia lain, bisa
melihat out of the box, atau apapun. Tapi itu bukan nihilisme,
itu konstruksi praktis dari nihilisme. Nihilisme pun tidak bekerja dalam
alam bawah sadar yang secara psikologis mengonstruksi pikiran manusia
mengenai ide dan benda. Nihilisme hanyalah nihil, dan manusia—dengan
keterbatasannya—mampu melihat nihilisme itu dari sisinya.
Nihilisme Tuhan
Nihilisme, meskipun ditambahi imbuhan -isme, tidak
menunjukkan pemikiran yang berasal dari Barat. Meskipun Nietzsche
berasal dari Jerman, namun nihilisme tidak melihat sesuatu sama sekali,
yang dalam kata lain ini adalah suatu keluasan yang tak terbatas.
Sebagai nihil, nihilisme memahami segala sesuatunya, karena di sanalah
terdapat segalanya. Nihilisme memang mengandung segala sesuatunya, dan
secara mudah dapat memengaruhi segala sesuatunya, karena ia berada dalam
segala sesuatu. Dunia, misalnya, pada awalnya adalah nihil, namun
konstruksi manusia mengubahnya. Lalu apakah dunia tidak jadi nihil lagi?
Tergantung bagaimana konstruksi manusia. Apakah itu berarti nihilisme
hanya ada dalam konstruksi manusia? Sebagai manusia kita melihat
semuanya dalam kacamata keterbatasan manusia. Manusia lah yang
membatasinya, padahal itu tanpa batas, bahkan tidak diketahui dimana
awal dan akhirnya. Hal ini sama ketika beberapa manusia memertanyakan
bentuk dari nihilisme; nihilisme itu tanpa bentuk, meskipun dibentuk
dari huruf n-i-h-i-l, nmaun itu adalah konstruksi manusia atas
nihilisme. Hanya yang berada dalam kawasan nihilisme adalah nihil
adanya. Ia tidak butuh gaya untuk menjadi nihil, karena energi pun
adalah nihil, manusia lah yang menggunakannya secara terbatas.
Nietzsche memberi konsep beyond good and evil
untuk dilabelkan pada Tuhan. Tuhan itu tidak berada pada kondisi dan
keadaan apapun. Manusia tidak mampu berpikir logika Tuhan; bagaimana
Tuhan mengatur dunia dengan tujuh milyar manusia, mengapa Tuhan
menciptakan manusia, siapa nama Tuhan yang sebenarnya, atau apapun.
Manusia akhirnya membuat logika Tuhan dalam agama. Agama sebenarnya juga
nihil dalam artian sebagai jalan menuju nihil, karena apapun elemen
dalam nihilisme adalah nihil. Konstruksi manusia atas agama lah yang
menjadikannya benar atau salah, padahal tidak ada agama yang mengajarkan
benar dan salah. Konstruksi manusia lah yang membentuknya. Aspek surga
dan neraka misalnya, kenapa harus dilihat dari sisi benar dan salah,
karena aspek konstruksi manusia. Manusia mengonstruksikan dirinya
menerima wahyu, menjadi anak Tuhan, perwakilan Tuhan di dunia, dll.
Jalan ini tidak salah ataupun benar, karena ia nihil sebagai jalan
menuju Tuhan yang nihil pula. Bagaimana manusia tahu ada malaikat yang
dipunyai oleh Tuhan? Konstruksi pengalaman manusia, baik dari mitos,
legenda, atau apapun. Ini benar dan salah. Bisa saja Tuhan yang nihil
ingin menunjukkan kenihilannya kepada manusia, tapi bisa saja itu hanya
konstruksi pikiran manusia. Bagaimana Tuhan bisa dikatakan baik oleh
beberapa manusia dan dikatakan jahat oleh manusia yang lain? Pikiran
manusia yang menentukan itu, suasana dan kondisi dunia pun sebenarnya
tidak membentuk hal itu, karena bisa saja keadaan dunia yang baik
dianggap jahat oleh manusia.
Fokus Nietzsche dalam membangun konsep nihilisme
adalah mengritik agama yang terlalu berfokus pada duniawi.
Nietszche bahkan mengemukakan bahwa ‘Tuhan sudah mati karena kita telah
membunuhnya’. Ya, inilah kuncinya. Tuhan itu nihil, dan manusia yang
mengonstruksi dengan pikiran manusia sendiri, dan lebih buruknya adalah
untuk kepentingan manusia sendiri. Tuhan itu misteri, dan ketika manusia
mulai membuka semuanya, Tuhan tidak lagi dianggap nihil dalam
konstruksi manusia, melainkan berbeda menurut jalan agamanya
masing-masing. Pengungkapan yang dilakukan oleh manusia pun menggunakan
keterbatasan logika manusia, yang berarti mencoba untuk memanusiakan
logika nihil milik Tuhan. Lucu memang, bagaimana mungkin menyatukan
jutaan konstruksi manusia untuk melihat logika Tuhan, itu jika Tuhan
adalah satu, bagaimana jika Tuhan itu banyak dan manusia tidak tahu,
karena manusia memang tidak tahu.
Agama dalam nihilisme berperan penting dalam
menjembatani dunia nihil dan manusia. Agama berperan penting untuk
membawa manusia ke arah nihil karena manusia pun sebenarnya nihil.
Permasalahannya, konstruksi agama tentang nihilisme Tuhan pun telah
dikonstruksi manusia melalui baik dan buruk, boleh dan tidak boleh,
normal dan abnormal, mayoritas dan minoritas. Lalu apa fungsi agama dan
Tuhan bagi manusia? Mereka tidak berfungsi dengan baik, karena manusia
pun tidak memfungsikannya sebagai sesuatu yang nihil. Manusia
menggunakannya bukan sebagai jalan menuju nihilisme, tapi sebagai bentuk
justifikasi bagi klasifikasi-klasifikasi konstruksi pikiran manusia.
Misalnya, bagaimana bisa Tuhan menyuruh manusia untuk membela agamanya?
Tuhan itu maha segalanya, tanpa manusia pun Tuhan tetap nihil, begitu
pula dengan agama. Jika sebuah agama itu musnah, bukan berarti ia tidak
nihil. Ia tetap nihil, tapi manusia lah yang berhenti
mengonstruksikannya. Bagaimana paganisme Yunani musnah itu bukan karena
Tuhan agama itu sudah mati, tapi justifikasi manusia atas nihilisme itu
yang merusaknya. Manusia selalu saja melihat sesuatu itu baik dan buruk
menurut pemikirannya, padahal tidak ada yang mengajarkan itu, tidak pula
dengan nihilisme. Contoh lain, manusia menemukan agama lain berdasarkan
kebutuhannya dan keselamatannya, maka nihilisme agama pun terbagi-bagi
sedemikian rupa. .
Tidak ada seorang pun manusia yang mengenal jelas apa
itu nihilisme. Manusia hanya tahu nihilisme dari kacamata manusia saja.
Dari sisi agama, jika manusia melihat nihilisme, maka manusia tidak
akan mengonstruksi atau merekonstruksi agama lagi dalam justifikasi
mereka. Dari sisi sebab dan akibat, bila suatu agama baru muncul, itu
bisa saja karena konstruksi manusia yang baru dari nihilisme Tuhan. Itu
wajar—wajar bukan dalam makna norma baik dan buruk, tapi dari keluasan
tak terbatas nihilisme yang sejumlah kecilnya diakomodasi manusia.
Manusia sudah melakukan konstruksi pikiran sejak
awal, inilah yang membelenggu manusia untuk menjadi nihil meskipun apa
yang melekat dalam dirinya adalah nihil. Apakah cukup hanya dengan
toleransi? Tentu tidak,memahami tiap agama lebih dalam itulah yang
penting. Ketersalingan pun harus terus dibangun, supaya nihilisme itu
tetap dalam koridor itu. Memahami agama lain itu bukan hanya mengenal,
tapi juga memerdalam,jika itu sudah bertentangan dengan agama,maka
manusia sudah mengonstruksi pikirannya atas itu. Jika agama majemuk,
maka interpretasi pun demikian, maka konstruksi pikiran sangat bermain
penting. Namun, kembali lagi, memahami tiap agama pun bukan merupakan
nihilisme, karena menyangkut kebutuhan manusia yang sekali lagi
terkonstruksi oleh baik dan buruk pikiran manusia.
sumber : https://rommelpasopati.wordpress.com/2012/05/08/nihilisme-dan-tuhan/
Komentar
Posting Komentar